PT Mutiara Medika
Jl. Ciujung No. 19, Malang

Laporan Keuangan Berbasis Data Transaksi

Analisis Pendapatan per Unit Layanan, Evaluasi Kualitas Pencatatan,
dan Rencana Perbaikan Sistem Akuntansi RSIA Mutiara Bunda
Disusun dari Data Mentah Transaksi Januari–Desember 2025
Disusun oleh
Direktur PT Mutiara Medika
Objek entitas usaha
RSIA Mutiara Bunda, Jl. Ciujung No. 19, Malang
Sumber data
13 berkas data transaksi mentah (Kas/Bank, Rawat Inap, Poli-BPJS/Asuransi/Karyawan, Poli-Pasien Umum, Farmasi) periode Januari–Desember 2025, diserahkan langsung oleh Bagian Keuangan atas permintaan Direktur PT
Latar belakang
Laporan keuangan standar yang diserahkan Bagian Keuangan belum menjawab pertanyaan Direktur PT: pelayanan/unit mana yang merugi. Laporan ini adalah upaya Direktur PT menyusun sendiri gambaran tersebut langsung dari data transaksi
Tanggal laporan
Juli 2026
Sifat dokumen
Rahasia — untuk kalangan pemegang saham dan jajaran direksi

1. Ringkasan Eksekutif

Direktur PT Mutiara Medika tidak puas dengan laporan keuangan standar yang diserahkan Bagian Keuangan Mutbun, karena tidak menjawab pertanyaan mendasar: pelayanan atau unit mana yang menguntungkan, dan mana yang merugi. Untuk menjawabnya, Direktur PT meminta data mentah transaksi (bukan laporan yang sudah diringkas) langsung dari Bagian Keuangan — 13 berkas Excel mencakup seluruh transaksi kas/bank, tagihan rawat inap, tagihan poliklinik (BPJS/Asuransi/Karyawan dan pasien umum), serta pembelian farmasi, periode Januari–Desember 2025. Laporan ini adalah hasil olahan Direktur PT atas seluruh data tersebut.

BARIS TRANSAKSI DIOLAH
~50.000+
12 bulan x 9 sheet x 13 berkas
COST CENTER TERTAG (BEBAN RIIL)
26,3%
di luar mutasi antar-rekening sendiri
GAP REKONSILIASI
46,1%
data mentah vs buku resmi (basis konsisten)

Kesimpulan utama Direktur PT:

PENDAPATAN per unit BISA disusun dengan cukup andal dari data mentah ini — hasilnya ada di Bab 4. Rawat Inap Kelas III menyumbang porsi terbesar pendapatan kamar (Rp2,91 miliar dari total Rp5,27 miliar pendapatan rawat inap bersih jasa dokter), dan Poli Anak adalah poliklinik dengan pendapatan RS murni tertinggi (Rp689,8 juta dari pasien umum sepanjang tahun, di luar honor dokter).
BIAYA per unit TIDAK BISA disusun secara andal dari data yang ada. Dari transaksi kas/bank yang benar-benar merupakan beban/pelunasan riil setahun (Rp19,70 miliar, di luar mutasi antar-rekening RS sendiri), hanya 26,3% yang diberi kode unit/cost center. Sisanya — termasuk hampir seluruh gaji, listrik, pembayaran hutang obat, dan jasa dokter — tidak tertelusur ke unit mana pun.
AKIBATNYA: laporan ini BELUM DAPAT menyajikan Laba/Rugi per unit/pelayanan yang diminta Direktur PT. Yang bisa disajikan hanya peta pendapatan per unit, plus sebagian kecil (26,3%) biaya langsung per unit. Ini bukan kegagalan analisis — ini adalah temuan itu sendiri: sistem pencatatan Mutbun saat ini secara struktural belum mampu menghasilkan laba/rugi per unit, siapa pun yang mengolahnya.
Ditemukan pula sejumlah persoalan kualitas data yang lebih mendasar — data pendapatan mentah tidak rekonsiliasi dengan pembukuan resmi (selisih 46,1% setahun pada basis yang konsisten, dan menyimpang ekstrem tiap bulan), template file berubah-ubah tiap bulan, dan satu bulan (September) data pasien umumnya tertimpa/terduplikasi secara keliru. Rincian di Bab 3.
Bab 7 memuat rencana perbaikan pencatatan secara rinci — ini adalah bagian terpenting dari laporan ini, karena tanpa perbaikan tersebut, pertanyaan "pelayanan mana yang merugi" tidak akan pernah terjawab secara andal di masa depan.

2. Dasar, Ruang Lingkup, dan Metodologi

Data mentah yang diolah terdiri atas 12 berkas bulanan (Januari–Desember 2025), masing-masing berisi sheet: (1) Kas, (2) BCA, (3) BRI, (4) Mandiri — jurnal mutasi kas/bank harian; (5) Rawat Inap — tagihan per pasien rawat inap; (6) Poli-BPJS/Asuransi/Karyawan dan (7) Poli-Pasien Umum — tagihan per kunjungan rawat jalan; (8)-(9) Farmasi — pembelian obat karyawan dan umum.

Definisi yang dipakai konsisten di seluruh laporan ini:

"Pendapatan RS" / "Total Perawatan" — bagian tagihan yang menjadi hak/pendapatan rumah sakit (kamar, obat, alat, laborat, tindakan), TIDAK termasuk honor dokter.
"Honor Dokter" — bagian tagihan yang diteruskan ke dokter/asisten sebagai jasa medis; bersifat pass-through, bukan pendapatan bersih RS.
"Total Akhir" — jumlah keseluruhan yang ditagihkan ke pasien/penjamin (Pendapatan RS + Honor Dokter, dikurangi uang muka).

Seluruh angka dalam laporan ini disusun langsung oleh Direktur PT dari data transaksi, sebagai pembanding independen atas laporan keuangan yang disusun Bagian Keuangan — bukan pengganti laporan keuangan resmi tersebut.

3. Temuan Kualitas Data (Tidak Ada yang Dilewatkan)

Sebelum menyajikan hasil analisis, Direktur PT memandang penting menyampaikan secara lengkap seluruh temuan mengenai kualitas data mentah itu sendiri — karena temuan ini yang menjelaskan mengapa Laba/Rugi per unit belum dapat dihitung, dan menjadi dasar rencana perbaikan di Bab 7.

3.1 Kode Cost Center hanya diisi pada 26,3% nilai transaksi beban riil

Total mutasi kas/bank setahun tercatat Rp29,32 miliar. Dari jumlah itu, Rp9,62 miliar (32,8%) adalah mutasi antar-rekening milik RS sendiri (Kas ↔ BCA ↔ BRI ↔ Mandiri) — bukan beban, sehingga wajar tidak berkode Cost Center. Sisanya, Rp19,70 miliar, adalah transaksi beban/pelunasan riil (gaji, obat, listrik, hutang, jasa dokter, dll.). Dari Rp19,70 miliar beban riil inilah hanya Rp5,18 miliar (26,3%) yang diberi kode Cost Center/unit. Persentase tertag bervariasi tiap bulan (terendah pada Juni dan September, tertinggi pada Maret) — menunjukkan pengisian Cost Center dilakukan tidak konsisten, tergantung siapa yang menjurnal, bukan mengikuti aturan baku. Tabel di bawah menyajikan persentase tertag dari TOTAL mutasi bulan itu (termasuk mutasi antar-rekening), agar tetap bisa dibandingkan dengan data mentah asli.

BulanNilai Tertag Cost Center% Tertag dari Total Bulan Itu
JanuariRp 499.244.20217,7%
FebruariRp 527.181.43121,3%
MaretRp 861.747.78127,5%
AprilRp 500.500.19720,4%
MeiRp 507.141.10519,7%
JuniRp 82.236.0134,9%
JuliRp 495.960.89924,3%
AgustusRp 573.147.37621,0%
SeptemberRp 92.032.0835,1%
OktoberRp 324.258.62013,3%
NovemberRp 324.625.66613,8%
DesemberRp 390.610.20714,0%

Cost Center yang tertag pun didominasi oleh biaya operasional kecil (makan pasien, kebersihan, linen) — bukan biaya besar seperti gaji, listrik, atau obat. Berikut seluruh Cost Center yang muncul di data, diurutkan dari nilai terbesar:

Cost Center (Unit)Nilai Tertag Setahun
RUANG PERAWATAN IBU & ANAKRp 3.008.376.288
UR. UMUM (housekeeping/umum)Rp 1.477.227.600
LABORATORIUMRp 235.512.570
POLI UMUMRp 139.370.000
RUANG OPERASI (OK)Rp 84.326.882
UR. LINENRp 69.019.266
POLI PENYAKIT DALAMRp 41.250.000
ALAT MEDIS (ALT)Rp 34.190.256
POLI ANAK (PA)Rp 32.272.000
POLI BEDAH (PB)Rp 30.000.000
FARMASIRp 9.506.350
UR. RUMAH TANGGARp 9.206.387
POLI OBGYN (PO)Rp 3.349.018
ETALASERp 1.933.528
RUANG BERSALIN (RB)Rp 1.431.124
RUANG PERINATAL (RP)Rp 821.800
UGDRp 459.200
UR. GIZIRp 433.312

Sebagian Cost Center di atas (UR. UMUM, UR. LINEN, UR. RUMAH TANGGA, UR. GIZI) adalah pusat biaya PENDUKUNG, bukan unit penghasil pendapatan langsung — sehingga secara alami tidak bisa dipertemukan satu-lawan-satu dengan pendapatan per poli. Biaya pusat pendukung ini perlu dialokasikan ke unit penghasil pendapatan dengan dasar alokasi tertentu (lihat Bab 7).

3.2 Item biaya terbesar justru yang paling sering TIDAK diberi Cost Center

20 Akun dengan Nilai Terbesar yang Tidak Tertag Cost Center (setahun)
Hutang Lain-Lain: Rp6,36 miliar — pelunasan berbagai hutang, tidak dirinci per unit
BCA Giro (transfer antar-rekening sendiri): Rp5,12 miliar — bukan biaya operasional, tapi mutasi kas internal
Hutang Obat & Alkes: Rp2,75 miliar — pelunasan ke supplier obat, tidak dirinci obat itu dipakai di unit mana
Titipan HR Dokter: Rp2,44 miliar — jasa medis dokter, tidak dipetakan ke poli/pasien penghasil jasa tsb
Kas (setor/tarik kas): Rp2,27 miliar
Bank Mandiri Giro (pindahan antar-rekening): Rp1,94 miliar
Titipan HR Perujuk: Rp496 juta — komisi ke klinik perujuk, tidak dipetakan ke poli
BYM Hutang Jamsostek: Rp382 juta — kewajiban BPJS Ketenagakerjaan karyawan, tidak per unit kerja
Uang Muka Pembelian: Rp347 juta
Inventaris Medis (pembelian alat): Rp318 juta — tidak dicatat unit pemilik alat
BRI Giro (transfer antar-rekening): Rp286 juta
BYM Biaya Gaji: Rp252 juta — gaji karyawan, tidak per unit kerja
Sarana dan Instalasi: Rp212 juta
BYM Biaya Listrik: Rp200 juta — tidak per unit/ruangan
BYM Hutang Biaya Lain-Lain: Rp191 juta
Titipan HR Asisten Bedah & Bius: Rp180 juta
Hutang PPh Pasal 21: Rp127 juta
Inventaris Non Medis: Rp67 juta
Pos debet Sementara: Rp58 juta
Hutang PPN: Rp35 juta

Pola ini konsisten: biaya yang bersifat rutin harian dan dibayar tunai (makan pasien, kebersihan) cenderung diberi Cost Center karena dicatat langsung oleh petugas ruangan; sedangkan biaya besar yang diproses terpusat oleh kasir/bagian keuangan (gaji, listrik, hutang, pajak, jasa dokter) tidak pernah diberi Cost Center — kemungkinan karena aplikasi/format jurnal pusat tidak mewajibkan kolom tersebut diisi.

3.3 Data mentah tidak rekonsiliasi dengan pembukuan resmi

Direktur PT membandingkan estimasi pendapatan bulanan dari data transaksi mentah (Rawat Inap + Poli, KONSISTEN di luar honor dokter di kedua sisi) terhadap angka "Jumlah Pendapatan" resmi pada Laporan Laba Rugi bulanan Bagian Keuangan:

BulanEstimasi dari Data Mentah (RS-only)Pendapatan Resmi (LR)Rasio
JanuariRp 630.412.000Rp 1.005.445.4710,63x
FebruariRp 517.773.500Rp 806.222.2040,64x
MaretRp 581.101.250Rp 66.266.3058,77x
AprilRp 579.780.000Rp 645.432.3110,90x
MeiRp 608.731.500Rp 953.522.1350,64x
JuniRp 516.587.500Rp 581.641.6340,89x
JuliRp 502.383.000Rp 589.921.1670,85x
AgustusRp 601.684.800Rp 810.885.8000,74x
SeptemberRp 402.390.000Rp 777.230.9880,52x
OktoberRp 578.039.750Rp 712.262.4360,81x
NovemberRp 560.929.750Rp 628.785.9110,89x
DesemberRp 587.991.250Rp 4.782.348.6560,12x
TOTAL SETAHUNRp 6.667.804.300Rp 12.359.965.0170,54x
Interpretasi Direktur PT
Secara total setahun, estimasi dari data mentah (Rp6,67 miliar) hanya mencapai 54% dari pendapatan resmi (Rp12,36 miliar) — selisih 46,1% yang perlu dijelaskan Bagian Keuangan, kemungkinan karena data mentah yang diserahkan belum mencakup seluruh kanal pendapatan (mis. penjualan obat rawat jalan di luar kunjungan poli, atau piutang BPJS yang diakui terpisah dari billing).
Rasio BULANAN jauh lebih tidak beraturan lagi: dari 0,12x (Desember) sampai 8,77x (Maret). Ini mengindikasikan pembukuan resmi TIDAK mencatat pendapatan secara merata tiap bulan sesuai kejadian transaksi — konsisten dengan temuan pada laporan analisis keuangan sebelumnya bahwa jasa medis dokter dibukukan sekaligus (lump sum) di bulan Desember, dan ditambah anomali baru: pendapatan resmi Maret tercatat sangat rendah (hanya Rp66 juta) yang patut diklarifikasi — kemungkinan koreksi/reversal jurnal.
Selama gap ini belum direkonsiliasi baris-per-baris oleh Bagian Keuangan, angka pendapatan per unit pada Bab 4 laporan ini harus dibaca sebagai GAMBARAN KOMPOSISI dan PROPORSI antar-unit (mana yang besar, mana yang kecil, arah trennya) — bukan angka final yang siap menggantikan pembukuan resmi.

3.4 Template file tidak konsisten antar bulan

Nama sheet berubah-ubah tiap bulan tanpa pola baku, contoh: "KasBank_kas" (Jan–Mei, Sep, Nov) vs "kas" (Jun–Agu, Okt, Des); "Poli-Pasien Umum" vs "Poli-pasien umum" vs "Poli-PAsien Umum"; "Farmasi-Pembelian Obat Karyawan" vs "Farmasi-PEmbelian Obat Karyawan". Perbedaan ini murni human error pengetikan, namun berisiko tinggi menyebabkan data terlewat atau salah proses jika konsolidasi 12 bulan dilakukan secara manual di Excel oleh siapa pun di masa depan.

3.5 Insiden konkret: data Poli Pasien Umum bulan September hilang/tertimpa

Temuan Kritis
Sheet "Poli-Pasien Umum" pada berkas September 2025 SEHARUSNYA berisi 217 baris data kunjungan pasien umum dengan kolom "Poli/Unit". Setelah diperiksa, isinya ternyata IDENTIK dengan sheet "Poli-BPJS,Asuransi,Karyawan" bulan yang sama (217 baris sama persis, seluruhnya berstatus BPJS).
Ini berarti data pasien umum (non-BPJS/asuransi) untuk poliklinik bulan September 2025 TIDAK TERSEDIA — kemungkinan tertimpa saat proses ekspor/penyalinan file oleh Bagian Keuangan.
Akibatnya, seluruh angka "Poli Pasien Umum" pada laporan ini dihitung dari 11 bulan (Januari–Agustus, Oktober–Desember), bukan 12 bulan penuh. Direktur PT merekomendasikan Bagian Keuangan menelusuri sistem billing untuk memulihkan data pasien umum poliklinik bulan September.

3.6 Sheet Poli-BPJS/Asuransi/Karyawan tidak mencatat Poli/Unit

Berbeda dari sheet Poli-Pasien Umum yang mencantumkan kolom "Poli/Unit", sheet Poli-BPJS/Asuransi/Karyawan hanya mencantumkan nama dokter, tanpa kolom unit/poli. Akibatnya, 2.649 kunjungan senilai Rp630,6 juta (BPJS + seluruh asuransi swasta + karyawan) TIDAK DAPAT dipetakan langsung ke poli. Pada Bab 4.3, Direktur PT membuat ESTIMASI poli berdasarkan gelar spesialisasi yang tertulis di nama dokter (mis. "Sp.OG" → Obgyn) — ini adalah pendekatan tidak langsung dan harus ditandai sebagai estimasi, bukan data resmi per unit.

4. Analisis Pendapatan per Unit / Segmen Layanan

Bagian ini menyajikan bagian dari data yang KUALITASNYA MEMADAI untuk dianalisis — sisi pendapatan. Direktur PT menekankan sekali lagi: angka berikut adalah pendapatan RS (di luar honor dokter, kecuali dinyatakan lain), dan tunduk pada catatan rekonsiliasi di Bab 3.3.

4.1 Pendapatan Rawat Inap per Kelas Kamar (Januari–Desember 2025)

Kelas KamarPendapatan RS (bersih honor dr.)Jml PasienRata-2/Pasien
VVIPRp 41.250.0005Rp 8.250.000
VIPRp 310.390.00059Rp 5.260.847
PAHE (paket bersalin)Rp 280.775.00053Rp 5.297.642
Kelas IRp 780.710.050243Rp 3.212.799
Kelas IIRp 931.632.500323Rp 2.884.311
Kelas IIIRp 2.912.070.7501195Rp 2.436.879
LainnyaRp 8.795.0004Rp 2.198.750
TOTALRp 5.265.623.3001882Rp 2.798.000
Kelas III menyumbang 55,3% dari total pendapatan rawat inap dan 63,5% dari total pasien — konsisten dengan mayoritas pasien Mutbun adalah peserta BPJS kelas standar.
Rata-rata pendapatan per pasien naik seiring naik kelas kamar (Rp2,44 juta di Kelas III hingga Rp8,25 juta di VVIP) — wajar, namun volume VVIP/VIP sangat kecil (64 pasien setahun, 3,4% dari total pasien rawat inap), sehingga kontribusinya terhadap total pendapatan terbatas (6,7%).
Total honor dokter (pass-through, bukan pendapatan RS) sepanjang tahun dari Rawat Inap saja mencapai Rp3,08 miliar — nyaris 37% dari total tagihan rawat inap ke pasien. Ini bagian yang seharusnya "lewat" begitu saja secara kas, namun sebagaimana ditemukan di laporan analisis keuangan sebelumnya, sebagian besar justru menumpuk sebagai hutang (Hutang HR+Asisten naik ke Rp1,35 miliar per akhir 2025).

4.2 Pendapatan Poliklinik — Pasien Umum, per Unit (RS-only, di luar honor dokter; 11 bulan, data September tidak tersedia)

Poli / UnitPendapatan RSHonor Dokter (pass-through)Jml Kunjungan
POLI ANAKRp 689.830.500Rp 371.075.0003.066
POLI OBGYNRp 270.545.000Rp 313.305.0001.797
UGDRp 64.083.500Rp 20.780.000815
LABORATORIUMRp 11.943.500Rp 057
POLI PENYAKIT DALAMRp 4.517.500Rp 3.370.00031
POLI UMUMRp 2.632.000Rp 1.120.00026
POLI BEDAHRp 381.000Rp 2.040.00015
Lainnya (Vaksinasi, Laktasi, dll.)Rp 313.000Rp 250.0004
TOTAL (11 bulan)Rp 1.044.246.000Rp 711.940.0005.811
Poli Anak adalah kontributor pendapatan RS rawat jalan terbesar (66,1% dari total pasien umum), diikuti Poli Obgyn (25,9%) — dua poli ini bersama menyumbang 92,0% pendapatan RS dari pasien umum.
Perlu dicermati: pada tagihan Poli Obgyn, porsi honor dokter (Rp313,3 juta) justru LEBIH BESAR dari porsi pendapatan RS-nya sendiri (Rp270,5 juta) — mayoritas nilai tagihan Poli Obgyn adalah jasa dokter, bukan pendapatan rumah sakit. Pola ini tidak terlihat sejelas ini di Poli Anak, di mana pendapatan RS (Rp689,8 juta) jauh lebih besar dari honor dokter (Rp371,1 juta).
Perlu digarisbawahi: tanpa data September, tren pendapatan Poli Anak/Obgyn di bawah ini melompat dari Agustus langsung ke Oktober — bukan berarti pendapatan poli tersebut nol di bulan itu.
BulanPoli Anak (RS-only)Poli Obgyn (RS-only)
JanuariRp 87.922.000Rp 29.392.500
FebruariRp 59.600.500Rp 30.288.500
MaretRp 69.989.000Rp 25.306.000
AprilRp 68.605.500Rp 26.525.000
MeiRp 45.331.000Rp 23.695.500
JuniRp 53.396.500Rp 16.991.000
JuliRp 70.219.000Rp 25.633.500
AgustusRp 60.726.000Rp 26.477.500
Septemberdata tidak tersediadata tidak tersedia
OktoberRp 61.759.000Rp 25.109.500
NovemberRp 64.295.500Rp 21.868.500
DesemberRp 47.986.500Rp 19.257.500
Pendapatan RS Poli Anak relatif stabil di kisaran Rp45–88 juta/bulan; Poli Obgyn stabil di kisaran Rp17–30 juta/bulan. Tidak terlihat pola musiman yang tajam dari data pasien umum saja.

4.3 Pendapatan Poliklinik — BPJS, Asuransi & Karyawan, per Jenis Penjamin (RS-only, 12 bulan)

Jenis PenjaminPendapatan RSHonor Dokter (pass-through)Jml Kunjungan
BPJSRp 248.072.500Rp 195.360.0002.298
Asuransi PT. Administrasi MedikaRp 32.962.500Rp 23.100.00092
Asuransi Mandiri InHealthRp 15.790.000Rp 12.650.00052
Asuransi BRI LifeRp 15.539.500Rp 9.250.00037
Asuransi MeditapRp 12.823.500Rp 8.050.00034
Asuransi Garda MedikaRp 11.493.500Rp 5.750.00023
Asuransi LippoRp 10.014.000Rp 5.600.00019
Karyawan (UMUM)Rp 1.659.000Rp 6.740.00070
Asuransi Pihak Ketiga lainnyaRp 9.580.500Rp 6.200.00024
TOTALRp 357.935.000Rp 272.700.0002.649

BPJS mendominasi 69,3% dari seluruh pendapatan RS dari poliklinik penjaminan (di luar pasien umum), konsisten dengan profil RSIA sebagai rumah sakit rujukan BPJS. Perlu dicatat: pada segmen ini honor dokter (Rp272,7 juta) hampir menyamai pendapatan RS-nya sendiri (Rp357,9 juta) — jasa dokter menyerap porsi yang sangat besar dari tagihan poliklinik penjaminan.

Estimasi poli berdasarkan spesialisasi dokter (RS-only, bukan data resmi per unit)

Estimasi Poli (dari gelar dokter)Pendapatan RS Estimasi
Obgyn (Sp.OG)Rp 215.853.000
Anak (Sp.A)Rp 124.984.000
Penyakit Dalam (Sp.PD)Rp 6.311.000
Bedah (Sp.B)Rp 1.530.000
Tidak teridentifikasi / dokter umumRp 9.257.000

Estimasi ini HARUS dibaca dengan hati-hati: didasarkan pada pencocokan teks gelar spesialis pada nama dokter, bukan field data resmi. Jika benar, maka menggabungkan hasil pasien umum + estimasi BPJS/asuransi, Obgyn dan Anak tetap menjadi dua penyumbang pendapatan RS rawat jalan terbesar secara konsisten di kedua segmen pembayaran.

5. Estimasi Biaya Langsung per Unit (Data Parsial — Jangan Disimpulkan sebagai Biaya Penuh)

Bagian ini menyajikan SATU-SATUNYA pecahan biaya per unit yang tersedia di data mentah: transaksi kas/bank yang kebetulan diberi kode Cost Center (26,3% dari beban riil setahun, Bab 3.1). Direktur PT menyajikannya di sini bukan sebagai dasar kesimpulan laba/rugi, melainkan sebagai bukti nyata betapa jauhnya data saat ini dari kebutuhan Laba/Rugi per unit yang utuh.

Unit (Cost Center)Biaya Langsung Tertag (setahun)Sifat Unit
Ruang Perawatan Ibu & AnakRp 3.008.376.288Penghasil pendapatan (rawat inap)
Ur. UmumRp 1.477.227.600Pendukung (overhead umum)
LaboratoriumRp 235.512.570Penghasil pendapatan
Poli UmumRp 139.370.000Penghasil pendapatan
Ruang Operasi (OK)Rp 84.326.882Penghasil pendapatan
Ur. LinenRp 69.019.266Pendukung
Poli Penyakit DalamRp 41.250.000Penghasil pendapatan
Alat MedisRp 34.190.256Pendukung
Poli AnakRp 32.272.000Penghasil pendapatan
Poli BedahRp 30.000.000Penghasil pendapatan
FarmasiRp 9.506.350Pendukung
Ur. Rumah TanggaRp 9.206.387Pendukung
Poli ObgynRp 3.349.018Penghasil pendapatan
Lainnya (Etalase, R. Bersalin, R. Perinatal, UGD, Ur. Gizi)Rp 5.078.964Campuran
Mengapa Tabel di Atas TIDAK BOLEH Dipakai untuk Menyimpulkan Laba/Rugi per Unit
Cakupan hanya 26,3% dari transaksi beban riil setahun — 73,7% sisanya (Rp14,52 miliar) tidak diketahui unitnya sama sekali, termasuk hampir seluruh gaji, listrik, obat, dan jasa dokter.
Beban BUKAN kas seperti penyusutan aset tetap sama sekali tidak muncul di jurnal kas/bank ini, sehingga tidak mungkin tercermin di tabel manapun yang bersumber dari data ini.
Sebagian unit (Ur. Umum, Ur. Linen, Ur. Rumah Tangga, Ur. Gizi) adalah pusat biaya pendukung yang seharusnya dialokasikan ke unit penghasil pendapatan, bukan dibandingkan langsung dengannya.
Jika tabel ini dipaksakan dibandingkan dengan tabel pendapatan di Bab 4, hasilnya akan menyesatkan — misalnya Ruang Perawatan Ibu & Anak terlihat memiliki "biaya langsung" Rp3,01 miliar, sementara pendapatan rawat inap Kelas III+II+I+VIP+VVIP+PAHE saja sudah Rp5,27 miliar — tampak untung besar, padahal biaya gaji, obat, listrik untuk ruang tersebut belum sama sekali masuk hitungan.

6. Kesimpulan: Laba/Rugi per Unit Belum Dapat Dihitung Secara Andal

Direktur PT menyimpulkan secara tegas: dengan data yang tersedia saat ini — baik dari laporan keuangan resmi Bagian Keuangan maupun dari data transaksi mentah 12 bulan yang diminta langsung — LABA/RUGI PER UNIT/PELAYANAN BELUM DAPAT DIHITUNG SECARA ANDAL. Ini bukan keterbatasan metode analisis, melainkan keterbatasan struktural sistem pencatatan Mutbun saat ini, dengan alasan kumulatif berikut:

Sisi pendapatan sudah cukup granular per unit, TAPI belum rekonsiliasi dengan pembukuan resmi (gap 46,1% setahun pada basis konsisten, menyimpang ekstrem per bulan) — sehingga angkanya baru bisa dipakai sebagai gambaran proporsi, bukan angka final.
Sisi biaya HANYA 26,3% dari beban riil yang tertelusur ke unit, dan bagian yang tertelusur pun bukan komponen biaya terbesar (gaji, obat terpakai, listrik, penyusutan semuanya tidak tertelusur).
Tidak ada tabel pemetaan baku antara unit pendapatan (nama poli) dan unit biaya (nama cost center) — keduanya memakai penamaan berbeda dan cakupan berbeda.
Tidak ada dasar alokasi untuk biaya bersama/overhead (listrik, gaji manajemen, penyusutan gedung) ke masing-masing unit penghasil pendapatan.
Bab 7 berikut adalah jawaban Direktur PT atas persoalan ini: bukan analisis tambahan di atas laporan yang ada, melainkan usulan PERUBAHAN CARA PENCATATAN agar pertanyaan ini bisa terjawab mulai periode mendatang.

7. Rencana Perbaikan Pencatatan — Bagian Terpenting Laporan Ini

Direktur PT menekankan: tanpa perbaikan pencatatan di bawah ini, laporan serupa di masa depan — betapapun kerasnya diolah — akan menghadapi keterbatasan struktural yang sama. Rencana ini disusun dalam tiga bagian: (A) konsistensi pencatatan, (B) kekurangan data yang harus ditambahkan, dan (C) cara/metode perbaikannya.

7.A Konsistensi Pencatatan

Kode Cost Center/unit WAJIB diisi pada SETIAP baris jurnal kas/bank tanpa kecuali — termasuk pelunasan hutang, pembayaran gaji, dan titipan jasa dokter — bukan hanya pembelian tunai langsung seperti saat ini (26,3% dari beban riil).
Kode Cost Center juga wajib diterapkan pada jurnal umum/akrual (bukan hanya jurnal kas/bank) — mencakup pengakuan gaji, penyusutan, dan pemakaian obat — karena sebagian besar biaya justru tercatat lewat jurnal ini, bukan jurnal kas.
Template file bulanan (nama sheet, urutan kolom, format header) harus dibakukan dan dikunci — gunakan satu file master/template yang disalin ulang tiap bulan, bukan dibuat ulang dari nol, untuk mencegah insiden seperti September 2025 (Bab 3.4–3.5).
Kolom "Poli/Unit" yang saat ini hanya ada di sheet Poli-Pasien Umum, ditambahkan juga ke sheet Poli-BPJS/Asuransi/Karyawan, agar seluruh pendapatan rawat jalan (bukan hanya pasien umum) dapat dipetakan langsung ke poli tanpa estimasi.
Tetapkan satu daftar baku nama unit/poli yang dipakai SAMA di seluruh sistem — billing pendapatan, jurnal biaya, dan laporan keuangan — sehingga "Poli Anak" di satu sheet adalah unit yang sama persis dengan "POLI ANAK (PA)" di sheet lain.

7.B Kekurangan Pencatatan — Data yang Perlu Mulai Ditambahkan

Data yang Perlu DitambahkanKondisi Saat IniKegunaan
Tabel pemetaan resmi: unit pendapatan ↔ cost center biayaBelum ada; penamaan berbeda antar sisiMempertemukan pendapatan dan biaya di level unit yang sama
HPP obat & BHP TERPAKAI per pasien/unitYang tercatat baru harga jual (di billing) dan pembayaran ke supplier — bukan pemakaian per unitMenghitung margin kotor riil per unit, bukan hanya omzet
Alokasi gaji karyawan tetap per unit kerjaGaji dibayar & dijurnal gelondongan, tidak per unitKomponen biaya terbesar RS, wajib ada untuk laba/rugi per unit
Register aset tetap & penyusutan per unit pemilik alatBelum ada pemetaan aset ke unitMembebankan biaya modal (alat, gedung) ke unit yang memakainya
Dasar alokasi biaya bersama: luas m² ruangan, jumlah pegawai, jam pakai alat per unitBelum tercatatMengalokasikan listrik, keamanan, kebersihan, gaji manajemen secara proporsional dan wajar
Rekonsiliasi rutin bulanan: data billing vs jurnal pendapatan resmiBelum ada; ditemukan gap 46,1% yang belum dijelaskanMemastikan data transaksi dan pembukuan selalu match, tidak menyimpang seperti temuan Bab 3.3
Data volume/BOR harian per kelas kamar & poliBisa dihitung dari data transaksi yang ada (jumlah baris), namun belum ada laporan resmi bulananDasar perhitungan tarif/biaya per pasien dan indikator kinerja operasional
Investigasi & pemulihan data pasien umum poli September 2025Hilang/tertimpa (Bab 3.5)Melengkapi data tahun berjalan agar analisis tahunan utuh

7.C Cara Perbaikan — Langkah Implementasi

Segera (0–3 bulan)

Terbitkan SOP tertulis: kode Cost Center wajib diisi di setiap baris jurnal, dengan daftar kode baku yang disahkan Direktur Mutbun.
Buat template Excel baku (nama sheet & kolom terkunci, tidak bisa diketik ulang bebas) untuk seluruh sheet bulanan, agar insiden September tidak terulang.
Tunjuk penanggung jawab verifikasi bulanan yang mengecek kelengkapan Cost Center dan konsistensi template SEBELUM file dikirim ke Direktur PT.
Bagian Keuangan menelusuri dan menjelaskan gap rekonsiliasi 46,1% (Bab 3.3) serta memulihkan data poli pasien umum September yang hilang.

Menengah (3–12 bulan)

Susun tabel pemetaan resmi unit pendapatan ↔ cost center biaya, disahkan bersama oleh Bagian Keuangan dan Direktur Mutbun.
Bangun mekanisme pencatatan HPP obat terpakai per unit (idealnya otomatis dari sistem farmasi saat obat keluar ke pasien, bukan saat dibeli dari supplier).
Lakukan distribusi/alokasi gaji karyawan tetap ke unit kerja masing-masing, minimal berdasarkan penempatan/jadwal kerja.
Buat register aset tetap per unit dan mulai bebankan penyusutan sesuai unit pemilik.
Tetapkan dasar alokasi overhead (luas m², jumlah pegawai, jam pakai alat) dan mulai terapkan dalam laporan bulanan.

Strategis (di atas 12 bulan)

Evaluasi migrasi dari pencatatan manual berbasis Excel ke sistem billing-akuntansi terintegrasi (HIS/SIMRS terhubung ke akuntansi), agar Cost Center terisi otomatis dari modul pendaftaran pasien/poli — menghilangkan risiko human error yang mendasari hampir seluruh temuan Bab 3.
Setelah data cukup matang (estimasi 12–18 bulan penerapan), susun Laporan Laba/Rugi per Unit sebagai laporan bulanan/triwulanan resmi kepada Direktur PT dan Pemegang Saham — bukan lagi hasil olahan manual seperti laporan ini.
Jadikan proses ini bagian dari RKAP tahunan, dengan target dan tenggat waktu implementasi yang terukur untuk masing-masing langkah di atas.

8. Penutup

Laporan ini disusun langsung oleh Direktur PT Mutiara Medika dari data transaksi mentah yang diminta khusus dari Bagian Keuangan RSIA Mutiara Bunda, sebagai upaya menjawab pertanyaan mendasar mengenai pelayanan mana yang menguntungkan dan mana yang merugi. Hasilnya: sisi pendapatan per unit sudah dapat digambarkan, namun sisi biaya per unit — dan karenanya laba/rugi per unit — belum dapat dihitung secara andal karena keterbatasan struktural dalam sistem pencatatan saat ini. Bab 7 memuat rencana perbaikan yang diusulkan Direktur PT agar pertanyaan ini dapat terjawab secara andal pada periode mendatang, dan menjadi dasar arahan kepada Direktur Mutbun untuk dilaksanakan.

Malang, Juli 2026

Direktur

PT Mutiara Medika